Category Archives: MEGA PROJECT

KILANG KARET SINTETIS (TDAE) TERBESAR DI ASIA DIBANGUN DI BATAM, RAMPUNG AKHIR 2017

PT Enerco RPO International kini sedang membangun Kilang TDAE (Treated Distillate Aromatic Extract). TDAE merupakan produk turunan hasil pengolahan minyak mentah yang dimanfaatkan bahan baku utama industri ban dan karet sintetis. Proyek yang sedang dalam tahapan konstruksi fondasi ini bernilai total US$ 98 juta atau Rp 1,3 triliun.

Kilang ini berlokasi di Kawasan lndustri Terpadu Kabil yang dikelola PT Kabil Citranusa (KCN), Kabil, Batam di atas lahan seluas 2,3 hektar dan setelah rampung pada akhir 2017 akan memiliki kapasitas produksi lebih dari 100.000 ton TDAE per tahun – sekaligus menjadi yang pertama di Indonesia dan terbesar di kawasan Asia.

Treated Distillate Aromatic Extract (TDAE) adalah Minyak Karet Hijau Olahan yang ramah lingkungan, memiliki kandungan aromatik tinggi, tidak beracun, non-karsinogenik (memenuhi persyaratan kesehatan) yang dapat digunakan sebagai pengganti ada minyak aromatik yang telah ada. Viskositasnya yang tinggi memungkinkan TDAE digunakan dalam produksi ban berstandar internasional (High Performance Tyre).

Dalam cakupan luas, TDAE dapat digunakan untuk formulasi tinta industri, produsen isolasi, pabrik otomobil, pembuatan ban bermutu tinggi, produk-produk manufaktur karet, sepatu, lantai, kabel dan industri penunjang lainnya.

Secara geografis, lokasi kilang diklaim strategis yang mana terdapat armada tanker langsung dari Batam ke wilayah Indonesia lainnya dan negara tujuan ekspor di Singapura, China, Korea, Jepang dan India.

Sementara itu, sistem logistik juga dipersiapkan untuk mendukung kelancaran distribusi produk TDAE dalam rangka memenuhi kebutuhan industri ban dan karet sintetis di dalam maupun di luar negeri. PT Enerco RPO lnternasional juga telah bekerjasama dengan ExxonMobil untuk pasokan bahan baku dari kilang mereka yang berlokasi di Singapura.

Pemilihan lokasi di Batam ini juga didorong oleh adanya kebijakan Pemerintah Rl tentang sistem bebas perpajakan yang berlaku di Batam, dan adanya kebijakan dari BP Batam dan Pemerintah daerah setempat yang memberi banyak kemudahan untuk proses perijinan usaha dan pembangunan kilang.

Selain itu, Batam dianggap area yang tepat karena faktor tersedianya lahan dan infrastruktur yang memadai di dalam Kawasan lndustrl Terpadu Kabil. Semua faktor ini, diharapkan akan membuat produk TDAE dari Enerco mampu bersaing di pasar global.

(Various Resources)

PERTAMINA BANGUN TERMINAL BBM DI SAMBU DAN TANJUNG UBAN

Kilang Minyak Pertamina

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Karen Agustiawan, didampingi komisaris utama yakni Sugiharto, Direktur Pemasaran dan Niaga, Hanung Budya, serta Gubernur Kepri, M Sani, meresmikan groundbreaking proyek pengembangan Terminal BBM (TBBM) untuk depo Pulau Sambu dan Tanjunguban di Pertamina Sambu, Rabu (12/2) siang sekitar pukul 11.30 WIB.

Untuk TBBM Pulau Sambu, Pertamina akan membangunan Terminal Atutomation System serta blending untuk produk solar dan MFO berstandar internasional.

Harapannya meningkatkan kapasitas TBBM hingga mencapai 300 ribu kiloliter dengan dermaga berkapasitas LR 100 ribu DWT.

Sedangkan untuk di TBBM Tanjunguban, Pertamina akang membangun tanki timbun dengan kapasitas sebesar 200 ribu kiloliter lengkap dengan Terminal Automation System dan dermaga baru berkapasitas LR 100 ribu DWT. Pun fasilitas blending migas yang dapat meningkatkan fleksibilitas pembelian impor produk Premium atau HOMC 92 DAN Caphta.

“Saya berharap banyak kepada PT Wika selaku yang membangun kedua depo TBBM di Kepri agar bisa menyelesaikan pembangunannya paling lambat 2016,” ujar Dirut Pertamina saat memberikan sambutan kepada tamu undangan yang hadir, Karen Agustiawan.

Sementara, Hanung Budya, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Pusat mengatakan TBBM Sambu sangat bersejarah karena sudah ada sejak 1918 akan menjadikan Pertamina memasuki babak baru sebagai Storage and Belending Facility Provider.

TBBM Pulau Sambu nantinya akan dimanfaatkan oleh Pertamina Energy Services (PES) sebagai sinergi Pertamina dengan anak perusahaan untuk mendukung bisnisnya menjadi oil trader di wilayah regional Asia Tenggara.

Pembanguan kedua TBBM yakni Tanjunguban dan Sambu menurut Hanung untuk mencapai visi Asian Energy Champion 2025 meningkatkan kinerja agar dapat berada sejajar dengan perusahaan kelas dunia. Salah satunya, ya, pembangunan infrastuktur di TBBM.

Untuk TBBM Pulau Sambu pembangunan infrastruktur  akan menelan dana hingga 94 juta US Dollar. Sedangkan untuk TBBM Tanjunguban menelan biaya lebih kecil daripada TBBM Sambu yakni 60 juta US Dollar.

Pengembangan TBBM Sambu dan Tanjunguban merupakan bagian dari tujuh proyek infrastruktur hilir migas dengan nilai total 340 juta US Dollar yang akan dapat menyokong perseroan dalam upayanya menjadi pemain utama bisnis niaga mias di tingkat regional menuju visi Asian Energy Champion 2025.

Selain TBBM Pulau Sambu dan Tanjunguban, ada Terminal LPF Panjang Lampung, Kapal Very Large Gas Carrier (VLGC) buatan Hyundai Korea selatan berkapasitas 84 ribu cubic metric atau setara dengan 50 ribu ton LPG, dengan panjang kapal mencapai 225,8 meter yang merupakan terbesar di dunia.

Kapal VLGC ini merupakan bagian dari rencana penambahan armada milik Pertamina untuk memperkuat jumlah armada kapal milik Pertamina, khususnya tipe LPG carrier untuk meningkatkan efisiensi dan memperlancar distribusi LPG ke seluruh wilayah Indonesia serta meningkatkan posisi tawar Pertamina di antara para ship owners.

Selanjutnya adalah tiga proyek Depo Pengisian Pesawat Udara (DPPU) di tiga lokasi bandara Internasional, yaitu DPPU Kualanamu, Medan, Sumatera Utara, DPPU Hassanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, dan DPPU Bandara Internasional Lombok, Mataram, NTB. Ketiga proyek pembangunan DPPU tersebut bertujuan untuk meningkatkan pelayanan bisnis penjualan Avtur Pertamina dalam dunia penerbangan nasional maupun internasional.

“Kami ingin mengembalikan kejayaan TBBM Sambu dan Tanjunguban seperti semula. Kalau proyek pembangunan ini berjalan lancar maka, dampaknya juga akan menyerap tenaga kerja di pulau sekitar yakni Belakangpadang,” ujar Dirut Pertamina mengakhiri. (gas – BatamPos, Pic Credit Republika)